Opini.
Kejujuran Dilawan Kekuasaan
Oleh: Aktivi Senior, Suhardi, S.Sos., M.H
Makassar, Inilahindonesia.com- Dalam praktik kekuasaan hari ini, kejujuran bukan sekadar diabaikan- ia dilawan.
Sistem birokrasi dan politik kita tidak dibangun untuk mereka yang berkata benar, melainkan untuk mereka yang pandai menyesuaikan diri dengan kepentingan penguasa.
Orang jujur bukan dianggap aset perubahan, tetapi ancaman yang harus dijinakkan atau disingkirkan.
Kekuasaan yang takut pada kejujuran adalah kekuasaan yang rapuh. Namun justru inilah wajah birokrasi kita: alergi terhadap kritik, sensitif terhadap kebenaran, dan nyaman dalam manipulasi.
Mereka yang berani membuka data, mengungkap kebohongan, atau menolak perintah yang keliru sering kali berujung pada pengucilan, mutasi non-job, hingga pembunuhan karakter secara sistematis.
Dalam sistem seperti ini, manipulasi naik pangkat, sementara integritas turun kelas. Loyalitas diukur bukan dari keberpihakan pada rakyat, melainkan pada atasan dan jaringan kekuasaan.
Aparatur yang jujur dipaksa memilih: bertahan dengan nurani atau selamat dengan kepura-puraan.
Banyak yang akhirnya menyerah, bukan karena lemah, tetapi karena sistem memang dirancang untuk mematahkan keberanian.
Lebih berbahaya lagi, kebohongan dilembagakan melalui bahasa birokrasi. Laporan dibuat indah, realitas ditutup rapi, dan kegagalan diubah menjadi prestasi.
Kekuasaan lalu bertepuk tangan atas pencitraan yang mereka ciptakan sendiri, sementara rakyat menanggung akibat kebijakan yang lahir dari data palsu dan keputusan manipulatif.
Sebagai aktivis pergerakan, saya melihat kejujuran hari ini telah menjadi sikap politik yang radikal. Mengatakan yang benar di hadapan kekuasaan yang salah adalah bentuk perlawanan.
Karena itu, wajar jika orang jujur kehilangan teman, jabatan, bahkan keamanan. Sistem tidak pernah ramah pada mereka yang menolak tunduk.
Namun sejarah tidak pernah berpihak pada para manipulator.
Kekuasaan yang berdiri di atas kebohongan selalu runtuh, cepat atau lambat. Yang bertahan adalah kebenaran, meski sering berjalan sendirian dan terluka.
Jika kekuasaan terus memusuhi kejujuran, maka rakyat tidak boleh diam. Birokrasi harus dipaksa untuk berubah, bukan dimohonkan.
Kritik harus dipertahankan, bukan dinegosiasikan. Sebab ketika kejujuran dibungkam, keadilan ikut dikubur.Kejujuran mungkin membuat seseorang kehilangan segalanya hari ini.
Tetapi tanpanya, bangsa ini akan kehilangan masa depannya. Dan bagi seorang aktivis, kehilangan posisi jauh lebih terhormat daripada kehilangan nurani.
Pewarta: S.Dg Ngawing/ Tim Med






