Kartini 2026: Bukan Lagi Simbol, Tapi Ujian Kepemimpinan

Takalar InilahIndonesia.com- Setiap 21 April, bangsa ini mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Namun, pertanyaan mendasar kembali muncul: apakah semangat Kartini masih berhenti pada seremoni, atau sudah menjelma dalam praktik kepemimpinan nyata?

Di tengah dominasi laki-laki dalam birokrasi lokal, kehadiran Bansuhari Said sebagai Camat Pattallassang—satu-satunya camat perempuan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan—menjadi contoh yang layak diuji, bukan sekadar dirayakan.

Selama ini, ada asumsi keliru bahwa keterwakilan perempuan otomatis menghadirkan perubahan. Faktanya, representasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana kepemimpinan itu dijalankan—apakah tetap terjebak pada pola administratif dan seremonial, atau benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Di Pattallassang, pendekatan turun langsung ke kelurahan, mendekatkan layanan, dan hadir di tengah masyarakat menunjukkan pergeseran paradigma: dari kekuasaan yang menunggu dilayani menjadi kepemimpinan yang aktif melayani.

Namun, sikap kritis tetap diperlukan. Apakah langkah ini berkelanjutan atau sekadar momentum? Apakah berdampak nyata pada pelayanan publik atau hanya memperkuat citra? Pertanyaan ini penting agar tidak terjebak pada glorifikasi individu.

Kepemimpinan perempuan kerap dilekatkan dengan empati, namun tanpa ketegasan, empati bisa berujung stagnasi. Sebaliknya, ketegasan tanpa empati menciptakan jarak. Keseimbangan keduanya bukan ditentukan oleh gender, melainkan kapasitas dan integritas.
Semangat Kartini sejatinya bukan sekadar membuka ruang bagi perempuan, tetapi memastikan kehadiran itu membawa perubahan nyata. Maka, relevansi kepemimpinan hari ini tidak diukur dari siapa yang memimpin, melainkan bagaimana kepemimpinan itu dirasakan masyarakat.

Hari Kartini 2026 seharusnya menjadi ruang refleksi. Bukan lagi sekadar merayakan simbol, tetapi menguji sejauh mana nilai-nilai Kartini hidup dalam praktik.

Karena pada akhirnya, Kartini tidak memperjuangkan siapa yang memimpin—melainkan bagaimana kepemimpinan itu dijalankan.

 

Pewarta: Dg Kulle/ Tim Med

Pos terkait