BULUKUMBA SulSel, inilahindonesia.com – Pembangunan saluran irigasi melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Desa Jojjolo, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah retakan pada bagian saluran yang baru selesai dikerjaka
Proyek yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Waemitti di Daerah Irigasi (D.I.) Bonto Kamase tersebut mendapat perhatian masyarakat karena kondisi fisik saluran memperlihatkan sejumlah retakan, sebagaimana terlihat dalam dokumentasi lapangan pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas hasil pekerjaan dan ketahanan konstruksi saluran irigasi yang diharapkan dapat menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian masyarakat.
Papan Informasi Proyek Terpasang di Lokasi
Berdasarkan foto dokumentasi yang diterima redaksi, papan informasi kegiatan mencantumkan identitas proyek P3-TGAI Tahun Anggaran 2026 dengan keterangan sebagai berikut:
Kementerian: Kementerian Pekerjaan Umum.
Balai: BBWS Pompengan Jeneberang.
Satuan kerja: O&P SDA Pompengan Jeneberang.
Pelaksana kegiatan: P3A Waemitti.
Daerah irigasi: D.I. Bonto Kamase.
Desa: Jojjolo.
Kecamatan: Bulukumpa.
Kabupaten: Bulukumba.
Tahun anggaran: 2026.
Titik koordinat: 5.346680° LS dan 120.198917° BT.
Keberadaan papan informasi tersebut menjadi petunjuk mengenai identitas kegiatan dan instansi yang tercantum dalam pelaksanaan program.
Namun, foto papan informasi yang tersedia belum memperlihatkan besaran anggaran kegiatan. Oleh karena itu, nilai anggaran proyek masih perlu dikonfirmasi melalui dokumen resmi kepada pihak terkait.
Dokumentasi Lapangan Memperlihatkan Sejumlah Retakan
Berdasarkan dokumentasi yang diambil pada 8 Oktober 2026, terlihat sejumlah garis retakan pada permukaan bagian atas saluran irigasi.
Retakan tampak melintang di beberapa bagian permukaan beton. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ditemukan pada saluran yang menurut informasi warga baru selesai dikerjakan.
Meski demikian, dokumentasi visual tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab maupun tingkat keparahan kerusakan.
Pemeriksaan langsung diperlukan untuk mengetahui apakah retakan hanya terjadi pada lapisan permukaan atau berkaitan dengan kondisi struktur bangunan.
Warga setempat yang enggan disebut namanya mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memengaruhi ketahanan saluran ketika nantinya digunakan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.
“Ini baru selesai, tetapi sudah retak. Kami khawatir belum sempat digunakan saat musim tanam, salurannya justru sudah rusak atau jebol terlebih dahulu,” ujar seorang warga setempat.
Pelaksana Sebut Keretakan Dipengaruhi Cuaca Panas
Saat dikonfirmasi media ini pada Kamis, 8 Oktober 2026, Suardi selaku pelaksana kegiatan P3A Waemitti memberikan tanggapan terkait keretakan pada saluran irigasi tersebut.
“Itu pengaruh panas sehingga retak,” jelas Suardi kepada media.
Pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari pihak pelaksana mengenai kondisi saluran yang menjadi sorotan.
Namun, untuk memastikan apakah keretakan benar-benar disebabkan oleh pengaruh cuaca panas, diperlukan evaluasi teknis terhadap kondisi beton, proses pengerjaan, komposisi material, perawatan setelah pengecoran, serta faktor lain yang mungkin memengaruhi terbentuknya retakan.
Dengan demikian, penyebab keretakan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual maupun keterangan awal pelaksana.
Warga Minta BBWS Pompengan Jeneberang Turun Tangan
Masyarakat berharap BBWS Pompengan Jeneberang bersama tenaga pendamping P3-TGAI segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap saluran irigasi di wilayah Jojjolo dan Jawijawi.
Pemeriksaan tersebut diharapkan mencakup kondisi fisik bangunan, mutu material, kesesuaian pelaksanaan dengan spesifikasi teknis, serta kelayakan saluran sebelum digunakan untuk mengalirkan air.
Warga juga meminta agar setiap kekurangan yang ditemukan ditindaklanjuti secara profesional dan transparan.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan spesifikasi teknis, pelaksana diharapkan melakukan perbaikan sesuai ketentuan dan tanggung jawab yang berlaku.
Langkah ini dinilai penting agar pembangunan yang dibiayai melalui program pemerintah tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga menghasilkan infrastruktur yang berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Program P3-TGAI bertujuan mendukung peningkatan fungsi jaringan irigasi yang dibutuhkan masyarakat pertanian.
Hingga berita ini disusun, redaksi masih mengharapkan keterangan dari BBWS Pompengan Jeneberang dan pendamping P3-TGAI mengenai kondisi saluran tersebut, termasuk hasil pemeriksaan teknis dan langkah penanganan yang akan dilakukan.
Media ini akan terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait demi menghadirkan pemberitaan yang berimbang, akurat, dan sesuai dengan prinsip jurnalistik.
Pewarta: Syamsuddin Dg. Ngawing/Tim Media










