TAKALAR, inilahindonesia.com – Kondisi dan masa depan Pulau Sanrobengi mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Takalar. Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, pada Minggu (21/6/2026) menurunkan tim khusus untuk melakukan pembersihan kawasan pulau yang selama ini menjadi salah satu potensi wisata bahari daerah.
Langkah tersebut dinilai bukan sekadar aksi bersih-bersih, tetapi menjadi sinyal bahwa pengelolaan Pulau Sanrobengi membutuhkan pembenahan menyeluruh.
Pemerintah daerah mulai mendorong evaluasi tata kelola, termasuk aspek kebersihan, fasilitas pendukung, perlindungan lingkungan, serta pola pengelolaan wisata agar lebih profesional.
Pulau Sanrobengi merupakan salah satu aset daerah yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, potensi wisata tersebut dapat kehilangan daya tarik dan tidak maksimal memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bupati Takalar menegaskan bahwa pembenahan Pulau Sanrobengi akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak.
Pemerintah daerah ingin memastikan kawasan tersebut tetap terjaga sekaligus mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
persoalan utama destinasi wisata bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi bagaimana pemerintah menghadirkan sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Menurut tokoh masyarakat mengatakan bahwa langkah Bupati Takalar menurunkan tim pembersihan merupakan bentuk respons terhadap kebutuhan mendasar sebuah destinasi wisata.
“Membersihkan kawasan adalah langkah awal, tetapi tantangan terbesar ada pada konsistensi pengelolaan. Pulau Sanrobengi harus dikelola dengan konsep yang jelas, bukan hanya ramai ketika ada program atau momentum tertentu,” ujarnya.
Menurutnya, diperlukan desain kebijakan yang mengatur keterlibatan masyarakat lokal, pengawasan lingkungan, pelayanan wisata, serta transparansi pengelolaan.
“Kalau tata kelolanya kuat, Sanrobengi bisa menjadi contoh bagaimana sebuah pulau kecil mampu memberikan kontribusi ekonomi daerah.
Tetapi jika tidak dibenahi, potensi besar bisa berhenti hanya sebagai aset yang belum maksimal,” tambahnya.
Langkah Pemkab Takalar ini menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana aset wisata daerah dikelola: apakah hanya menjadi lokasi kunjungan, atau benar-benar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Pewarta: A.Dg Kulle/ Tim Med







